Satu rekor baru terpecahkan di Indonesia dan tampaknya layak masuk Guinnes Book of World Records. Partai Demokrat mampu mencatatkan kemenangan 300%.
Kenapa menjadi rekor? Karena inilah pertama kalinya sebuah partai politik (parpol) dalam sistem multipartai yang bersaing dengan 43 parpol lain bisa mendongkrak kemenangan 300%. Kejadian mencolok mata ini secara politik umumnya terjadi, pertama, pada rezim totaliter seperti Golkar yang meraih 70-80% suara di masa Soeharto-Orde Baru karena tak ada pilihan lain dan pemilih ketakutan secara fisik dan psikologis untuk menentangnya.
Kedua, pada pemilu cacat, yang dipenuhi kecurangan kasatmata seperti pada Pemilu 1986 di Filipina yang mengantarkan Ferdinand Marcos ke kursi presiden sekaligus mengantarkannya ke akhir kekuasaan digulingkan people power rakyat Filipina. Tentu menarik untuk membedah kenapa akhirnya Partai Demokrat bisa meraih kemenangan 300% dalam lingkup yang katanya demokratis ini?
Operasi Berjuang: BLT
Beras, baju, dan uang (ber-juang) merupakan variabel penentu untuk memilih pada pemilu legislatif 9 April maupun pemilu presiden 8 Juli nanti. Bantuan Langsung Tunai (BLT) merupakan sumber utama mengalirnya “beras, baju, dan uang” yang dibalas penerimanya dengan suara spektakuler hampir 300% kenaikan pemilih Partai Demokrat, dari 7,45% (2004) ke 20,4% (2009).
Tentu BLT ini bukan money politics dan bukan pelanggaran pemilu karena merupakan program pemerintah yang dengan lihai diberikan sebelum dan pada saat kampanye pemilu legislatif berlangsung. Kebijakan populis menjadi keuntungan pihak incumbent. Mengapa pengaruh BLT ini begitu hebatnya terhadap perolehan Partai Demokrat? Karena total penerima BLT sejumlah 19,12 juta rumah tangga atau kepala keluarga (KK) atau sekitar 80 juta-100 juta orang.
Ambil saja setengahnya adalah pemilih pada Pemilu 2009, maka potensi pemilih Partai Demokrat adalah 40-50 juta pemilih. Adapun total dana yang digelontorkan adalah Rp14,17 triliun. Operasi BLT dilakukan di seluruh Indonesia. Beberapa provinsi berikut menjadi pusat gelontoran BLT yang juga menjadi sumber dukungan Partai Demokrat, yaitu Jawa Timur (3.236.680 KK), Jawa Tengah (3.190.988 KK), Jawa Barat (2.905.234 KK), Sumatera Utara (944.972 KK), Lampung (785.059 KK), Banten (702.049 KK), Sumatera Selatan (683.181 KK), Nusa Tenggara Timur (623.137 KK), Sulawesi Selatan (594.966 KK), dan Nusa Tenggara Barat (576.605 KK).
Kemiskinan absolut dan ketimpangan sosial menjadi ukuran berhasilnya operasi BLT. Pemerintah menjadi sosok Sinterklas. Sosok Sinterklas ini menjadikan si miskin tetaplah miskin tanpa menyadari bahwa kewajiban pemerintah bukan menjadi Sinterklas Agung dan Sinterklas Abadi, tetapi wajib melindungi dan menjamin hak ekonomi, hak sosial, dan hak budaya setiap warga negara Indonesia tanpa kecuali.
(lagi…)